Wartamusadha

Aspek Kesehatan Prosesi Melis

Satu lagi prosesi upacara agama yang sering menjadi sorotan adalah “melis” atau sering disebut melasti, mekiyis. Berbeda ucapannya namun tujuannya sama yaitu menuju sumber air kehidupan tempatnya tirtha amerta. Tirta amerta ini dalam beberapa kitab disebutkan bertempat di pertengahan samudra, dapat menghilangkan segala penyakit dan dapat menyebabkan luput dari kematian, nihan karana nikang amara tan keneng pati (adi parwa) yang artinya dengan meminum tirtha amerta ini, menyebabkan para dewa tidak akan meninggal. Betapa utamanya tirta amerta tersebut.

Berdasar keyakinan itulah umat manusia khususnya yang beragama Hindu, merasa berkepentingan untuk memperolehnya, minimal untuk menghidupkan kembali sel-sel tubuh yang sudah berumur, menggantinya dengan sel baru. Untuk menghidupkan kembali seorang yang sudah meninggal dunia, sangat jauh kemungkinannya. Karena tubuh terdiri dari sel, maka keberadaan tirta amerta tersebut minimal bisa memperpanjang kehidupan sel dalam tubuh. Demikian kalau dianalogikan fungsi tirtha amerta dalam lingkup kehidupan kecil yaitu sel. Berbeda halnya dengan yang ada dalam cerita, seorang bisa menghidupkan kembali pasien yang sudah meninggal. Begawan Sukra dalam cerita adi parwa, Danghyang Manawa dalam cerita tantri dikatakan bisa menghidupkan pasien yang sudah meninggal setelah mendalami ayurweda, memiliki mantra amerta sanjiwani, jiwa ilmu kesehatan jaman dahulu.

Tirta amerta yang tempatnya di kedalaman samudera, kemudian menjadi bagian dari prosesi melis terutama yang dilaksanakan setiap akan mengawali tahun baru Saka. Dalam rangkaian hari suci Nyepi, di dalamnya ada prosesi melis yang bermakna menyucikan. Melis juga dilakukan berbeda pada masing- masing desa tertentu, bahkan setiap karya besar tahunan di pura Besakih ketika karya betara turun kabeh. Ada desa yang melaksanakan melis dirangkaikan dengan upacara besar pada suatu pura yang juga berfungsi penyucian. Kalau diperhatikan jalannya prosesi melis yang menempuh jarak kiloan bahkan puluhan kilometer, seperti halnya gerak jalan puputan Margarana, wajar kalau ada yang kelelahan dan kesakitan, namun jumlahnya dapat dihitung dengan jari ketika prosesi melis, dan bahkan sama sekali tidak membebani seksi kesehatan.

Sebenarnya prosesi melis itu baik apa tidak untuk kesehatan?

Kajian spiritual mengatakan bahwa melis itu sangat menunjang kesehatan terutama kesehatan batin. Betapa tidak, dengan adanya melis, saat itu juga tergugah nurani masyarakat akan ikut berduyun-duyun bersama dewanya menuju sumber keheningan. Merasa bahwa dewanya berjalan menuju sumber kehidupan memperoleh tirta amerta, maka timbulah wujud tanggungjawab pada setiap warga untuk dapat
ikut serta melaksanakan. Tanggungjawab yang dimaksud adalah tanggungjawab fisik dan moral. Ketika tanggungjawab ini diwujudkan, itu artinya kesehatan sudah mulai menguasai diri seorang. Mendapatkan suatu dari Ida SangHyang Widhi Wasa, merupakan anugrah yang tak ternilai harganya. Jangankan memperoleh tirta amerta, mendapatkan air dari bekas mencuci kakiNya juga adalah anugrah besar yang diyakini bisa membuat sehatnya batin. Batin artinya suksma sarira, kesehatan badan halus. Badan abstrak juga perlu mendapatkan perhatian salah satunya dengan mengkuti prosesi melis. Namun jangan lupa tubuh ini secara kasat mata adalah sthula sarira (badan kasar).

Tubuh ini perlu dijaga kesehatannya salah satunya dengan menggerakkannya secara rutin dengan tulus iklas. Prosesi yang diiringi lantunan kidung kerohanian dan suara gambelan yang membangkitkan semangat, akan meningkatkan hormon prostaglandin dalam darah guna memelihara kesehatan karena dilakukan berdasarkan semangat. Ini yang kemudian bekerja memacu organ tubuh yang tadinya lemah menjadi semakin kuat. Jantung semakin kuat, paru-paru, ginjal, hati, pancreas, empedu, ginjal dan seluruh saraf tubuh, semuanya berkolaborasi dengan otot daging, menghasilkan kesehatan paripurna.