Wartamurddha

Dari Saraswati Hingga Pagerwesi

oleh: Alit Aryawati Apriltini, S.Ag

hari Saraswati Pagerwesi Wartam

Watugunung runtuh yaitu runtuhnya gunung batu, simbol runtuhnya egoisme yang kokoh bagaikan batu dan bertekad melakukan laku pembelajaran diri tepat redite kliwon watugunung, redite yaitu surya dan kliwon adalah Siwa yaitu berguru pada Siwa Raditya. Esoknya soma umanis watugunung disebut sandang wangke bahwa tubuh ini bagaikan mayat yang siap ditanami benih atau bibit pengetahuan. Anggara pahing watugunung yaitu paid-paidan artinya tarik menarik bahwa untuk prajna, wikan, sifat malas, ego harus ditarik agar terus ririh nu liu pelajahin (biarpun sudah pintar harus terus belajar). Buda ponnya disebut buda urip dengan ladang pengetahuan telah berhasil idep (hidup), buda wage watugunung disebut panegtegan bermakna menenangkan pikiran untuk siap belajar dengan dengan laku abyasa (disiplin) dan wairagya (pengendalian diri), sukra pon disebut pangredanan bahwa pengetahuan akan mensejahterakan (dana), dan mendapat kekuatan.

Pada saniscara kliwon watu gunung, puncak hari saraswati, rangkaian yang berkaitan dengan proses kualitas diri guna dan gina yaitu pengetahuan dan keterampilan (life skill). Hari Saraswati dipuja Dewi Saraswati dewi yang cantik mengandung makna tentang satyam (kebenaran) siwam (kesucian) dan sundaram (ke
Dari Saraswati Hingga Pagerwesi indahan) sebagaimana dalam Regveda I.3.12 : Maho arnah sarasvati pra cetayati ketuna, Dhiyo visy virajati “Oh Saraswati, sungai yang besar, Dia yang dengan cahayanya memberikan terang, Dia menerangi setiap pikiran yang mulia” Kemudian banyu pinaruh artinya air pengetahuan bahwa kita sudah berhasil mendapatkan dan bermandikan air pengetahuan sebagai bekal untuk mencari nafkah. Soma ribek payogan Bhatara Manik Galih, bahwa dengan pengetahuan kita akan memperoleh dan memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan. Sabuh mas payogan Hyang Mahadewa artinya hujan emas petanda dengan pengetahuan akan mensejahterakan melipatgandakan penghasilan (manik astagina) dengan guna gina yang dimiliki. Pada buda kliwon sinta adalah hari suci pagerwesi, budha kliwon sinta Ngaran pagerwesi, payogan Sang Hyang Pramesti Guru, kairing ring watek Dewata Nawa Sanga ngawerdhiaken sarwatumitah sarwatumuwuh ring bhuana kabeh “Rabu Kliwon Sinta disebut Pagerwesi, sebagai pemujaan Sang Hyang Pramesti Guru, yang diiringi oleh Dewata Nawa Sanga (sembilan dewa). Pagerwesi untuk memagari diri dengan pengetahuan yang sudah dicapai agar pengetahuan yang dimiliki tidak disalahgunakan. Pagerwesi juga benilai cinta kasih sinta ngaran sih ning sahananta artinya pada wuku sinta adalah perwujudan cinta kasih pada sesama. Ada apa dengan pengetahuan? sehingga umat Hindu memuliakannya. Pengetahuan mempermulia hidup manusia dan terbukti dapat memperingan hidup manusia. Dalam Nitisastra disebutkan “norana mitra mang lewihane wara guna mangruhur” artinya tiada sahabat melebihi pengetahuan yang luhur. Demikian juga dalam Niti Sastra I.5 menyayangkan orang-orang yang tidak mememiliki pengetahuan : Hemani sang mamukti dumadak tika tan hana guna, yowana rupawan kula wisala tika pada hana, de nika tanpa sastra tan ateja wadana makucem, lwir sekar ning sami murub abang tan hana wangi nika (sangat disayangkan bila orang kaya tiada mempunyai kepandaian, biarpun muda, keturunan bangsawan dan berbadan sehat, bila tiada pengetahuan mukanya pucat tiada bercahaya, seperti bunga dapdap merah menyala namun tidak wangi)