Wartammana

Desa Kala Patra plus Ilikita

oleh: I Gusti Ketut Widana

Soal konsep, Hindu memang mumpuni, tak diragukan lagi, terlalu sulit untuk disebutkan semuanya. Tak terbilang untuk dikatakan, kecuali bila diperlukan, bisa dirunut arti dan maknanya. Diantaranya konsep “desa-kalapatra” plus “ilikita”. Meski ada beberapa tafsir terhadap maknanya, setidaknya yang umum dipahami, desa-kala-patra merujuk pada arti “tempat-waktu-keadaan”. Tetapi untuk arti kata “patra” sendiri ternyata ada tafsiran lain yaitu : 1) “daun” (lontar), dikaitkan dengan salah satu fungsinya sebagai media penulisan ajaran Hindu, yang kemudian disebut sebagai pustaka atau sastra; 2) “manusia” (patron, paternalistik) dikaitkan dengan seseorang yang memegang pucuk pimpinan, atau sosok yang diikuti, sebagai panutan); 3) “ragam hias/corak” (misalnya patra Mesir, Cina, Belanda, dll).

Dalam tafsiran keilmuan, “desa” dan “kala” bisa juga diterjemahkan sebagai “ruang” dan “waktu”, yang jika disandingkan dengan “patra” dalam arti “manusia” akan menjadi “manusia adalah pengisi ruang dan waktu”, yang kemudian perjalanan hidupnya dicatatkan dalam “ilikita” sebagai bukti tertulis atas apa, dan bagaimana manusia mewarnai kehidupannya. Ilikita sebagai catatan tertulis (Sang Suratma) itulah yang akan menjadi rekam jejak alias track record karma seseorang, sebagai bibit/benih yang senantiasa diikuti phala (buah/hasil). Rta karmaphala, sebagai hukum kausalitas menyebabkan manusia secara absolut tunduk pada keberlangsungan hidup dan kehidupan dalam jeratan ruang dan waktu serta keadaan.

Ternyata,desa-kala-patra tidak sekedar bermakna leksikal, tetapi juga sebuah konsep filosofis tentang bagaimana manusia memposisikan diri dalam ruang, waktu dan keadaan. Kemampuan menyesuaikan diri dengan ruang, waktu dan keadaan itulah intisari kehidupan. Barang siapa mampu senantiasa menyesuaikan diri, dalam ruang apapun, waktu kapanpun dan keadaan yang bagaimanapun, dia akan keluar sebagai pemenang kehidupan. Pemenang yang tentunya membebaskan diri dari keterjeratan diri atas ruang, waktu dan keadaan. Beranalogi pada seekor lebah penikmat madu, ia terikat dengan manisnya madu, tetapi ia harus mampu membebaskan diri dari jeratan nikmatnya madu. Awalnya lebah masih sadar, hanya satu kaki berpijak pada tepi gumpalan madu. Ketika mulai dirasaka nikmat, satu demi satu kakinya dipijakkan hingga tanpa disadari seluruh kakinya terbenam tenggelam pada jeratan nikmat madu.

Ketika tersadar, sang lebah hanya bisa menggelapar berusaha membebaskan diri dari jerat nikmat madu, namun terlambat, tubuhnya melekat, terikat dan terjerat kenikmatan, hingga akhirnya terkapar menjemput ajal. Nikmatnya madu telah meracuni diri, bukan pada kebebasan atau pembebasan tetapi justru pada kebablasan niat memperturutkan hasrat, berkhianat pada hakikat sebagai insan berharkat, dengan derajat dan martabat yang seharusnya semakin meningkat, bukan terus menerus terikat.

Paparan di atas, merupakan tafsiran latency terhadap konsep desa-kala-patra, yang secara manifes sebenarnya lebih sering diimplementasikan dalam konteks keleluasaan atau kebebasan umat untuk selalu berkemampuan menyesuaikan diri dalam hal apapun. Penyesuaian diri atas desa-kala-patra itulah yang menjadikan praktik ajaran Hindu berbeda-beda. Apalagi disadari, Hindu bukanlah ajaran deterministik agnosticism, bergerak atas dasar absolutisme dogmatik, melainkan lebih berorientasi pada filosofik asketik, sehingga praktiknya dominan bermain di tataran atmanastusthi, mencari dan mencapai kepuasan diri (hati/bathin), meski hal itu dilakukan lewat medium ritualistik simbolik ekspresif yang tetap kental nuansa materialistik, tinimbang spiritualistik.

Konsep desa-kala-patra sebenarnya memberikan kebebasan jalan sekaligus menjanjikan kesamaan dalam pencapaian. Akan lebih relevan jika disan-dingkan dengan ajaran Catur Marga misalnya, umat diberi kebebasan mencari jalan guna mencapai Tuhan. Diawali dengan mengukur diri untuk kemudian menentukan jalan (marga) mana yang hendak dilalui. Mulai dari Karma Marga, dengan prinsip dasar berbuat atau bertindak (karmany) sebagai jalan paling mudah, murah dan alamiah. Seorang petani misalnya, ia sudah dianggap mempraktikan karma-marga, manakala melakukan proses bercocok tanam di area persawahan, yang adalah sthana Dewi Sri, Sakti Dewa Wisnu, manisfestasi Hyang Wdhi sebagai pemelihara (sthiti). Celakanya sekarang, sawah sebagai sthana Dewi Sri telah berubah menjadi istana para Resi, alias menjadi Residen yang diantaranya dihuni Mbak Sri atau Mas Srianto, yang tidak jarang berlabel Residivis.

Meningkat ke Bhakti Marga, jalan cinta kasih melalui pelayanan, tidak hanya kehadapan Hyang Widhi, juga tak kalah penting kepada sesama manusia, berdasar prinsip manawa seva madawa seva (melayani manusia sama dengan melayani Tuhan). Praktik ajaran Bhakti Marga ini masih jauh dari harapan, yang artinya perlu dan penting ditingkatkan. Akan sangat tidak berarti jika misalnya seorang umat berhasil melaksanakan ritual yadnya dengan megah, mewah atau serba wah, tetapi dengan tetangga dekat menyimpan banyak masalah, apalagi dengan seisi rumah senatah dan sesanggah sering mekerah atau mecokrah, tentunya jauh dari berkah dan anugrah Hyang Widhi.

Lanjut Jnana Marga, melakukan persembahan berupa ilmu pengetahuan, yang jauh lebih utama daripada persembahan materi, sebagaimana dinyatakan kitab suci Bhagawadgita, IV.33 : “persembahan berupa ilmu pengetahuan, Parantapa, lebih utama (bermutu) daripada persembahan berupa materi, dalam keseluruhannya semua kerja ini berpu
sat pada ilmu pengetahuan”. Sebab, lanjut sloka 36 : “walau seandainya engkau paliong berdosa diantara manusia yang memikul dosa, dengan perahu ilmu pengetahuan ini lautan dosa engkau akan seberangi”.

Puncaknya, Raja/Yoga Marga,adalah jalan pendakian tertinggi atas pencapain terhadap apa yang menjadi obsesi umat. Jika konsep desa-kala-patra meberikan kebebasan menempuh jalan apa saja sesuai ruang, waktu dan keadaan untuk mencapai Tuhan, yang dalam praktiknya lebih dominan lewat jalan ritual, maka Raja/Yoga Marga hanya memberikan jalan tunggal yaitu spiritual, melalui praktik tapabrata-yoga-samadhi. Ketika umat telah menempuh, apalagi mencapai puncak kesadaran spiritual, maka sebenarnya akan menjadi “spi-ritual”, sepi dari praktik ritual yang dalam praktiknya tidak jarang dirasakan sebagai “bebanteen” (tekanan) lantaran lebih menekankan beban pada unsur material, dalam kemasan simbolik ekspresif, sehingga masih jauh dari maksud impulsif kontemplatif.

Desa-kala-patra plus ilikita telah memberikan catatan tentang kebebasan merealisasikan bhakti, menuju jalan tunggal; mencari, dan mencapai kemanunggalan dengan Tuhan – Brahman Atman Aikyam.