Wartamerta

Trimatra Manajamen Hindu

oleh: Prof Raka Suardana

manajemen hindu
manajemen hindu

Tri matra adalah konsep ruang, dimana kita bisa merasakan dan melihat keberadaan sebuah ruang sesungguhnya secara konkrit yang mempunyai tiga unsur, yaitu panjang, lebar dan tinggi. Kosnep ini umumnya ditemui dalam karya seni.

Dalam ilmu manajemen, tentu konsep ini bisa dilihat dari sisi keluasan dan betapa pentingnya implementasi manajemen dalam kehidupan kemasyarakatan, karena disadarai bahwa manajemen penting untuk semua orang, terlebih lagi organisasi. Manajemen sangat diperlukan agar segala sesuatunya dapat terencana, terorganisasi, terarah dan terkontrol.

Setiap manusia berkepentingan dengan manajemen, karena: Pertama, manajemen merupakan suatu kekuatan yang mempunyai fungsi sebagai alat pemersatu, penggerak dan pengkoordinir faktor alam, tenaga dan modal. Kedua, manajemen merupakan suatu sistem kerja yang rasional dalam mencapai tujuan organisasi, sehingga menghasilkan efektisvitas dan efesiensi kerja serta produktifitas dan kepuasan. Ketiga, manajemen mempunyai prinsip-prinsip yang universal sehingga dapat dipergunakan dalam setipa usaha kerjasama dengan tidak melepaskan corak gaya, keyakinan serta tujuan hidup dari organisasi yang mempergunakannya. Keempat, manajemen merupakan suatu kemampuan / keahlian manusia untuk mengurus suatu kegiatan sehingga dapat mendeteksi, menyesuaikan serta menghadapi perubahan yang terjadi, baik perubahan teknologi, persaingan maupun tuntutan perkembangan yang lebih luas. Kelima, manajemen akan membawa organisasi kepada kedudukan yang lebih tinggi dan dihargai
karena merupakan salah satu faktor produksi yang diperlukan dalam kehidupan organisasi. Keenam, manajemen suatu profesi untuk dapat menangani dengan tepat kegiatan suatu usaha.

Sejarah lahirnya manajemen itu sendiri cukup rumit untuk melacaknya. Namun diketahui bahwa ilmu manajemen telah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Hal ini dibuktikan dengan adanya piramida di Mesir. Piramida tersebut dibangun oleh lebih dari 100.000 orang selama 20 tahun. Piramida Giza tak akan berhasil dibangun jika tidak ada seseorang tanpa memedulikan apa sebutan untuk manajer ketika itu yang merencanakan apa yang harus dilakukan, mengorganisir manusia serta bahan bakunya, memimpin dan mengarahkan para pekerja, dan menegakkan pengendalian tertentu guna menjamin bahwa segala sesuatunya dikerjakan sesuai rencana.

Sementara itu, dalam kaitannya Tri Matra dalam Manajemen Hindu, terletak pada keluasan, kelebaran dan tingginya praktek manajemen dalam implementasi, yang semuanya berorientasi pada kehidupan bhuana agung dan bhuana alit bagi seorang pemimpin (leader). Hal itu memberikan pandangan bahwa kehidupan sosial kemasyarakatan dan kehidupan bernegara merupakan suatu hal yang sangat penting dan mendasar, sehingga setiap pemimpin hindu dalam kehidupan ini berkewajiban untuk “berkarma” atau berbuat. Kewajiban adalah tugas yang harus dilakukan dan hak adalah sesuatu yang menjadi wewenang untuk diambil. Tugas dan wewenang atau hak dan kewajiban seseorang adalah dua yang sulit untuk dapat dipisahkan karena tidak ada tugas yang dapat dikerjakan oleh seseorang tanpa wewenang, dan sebaliknya tidak ada wewenang yang dapat diperoleh seseorang tanpa mendapat tugas atau kewajiban yang harus dikerjakan. Kitab suci Veda menyebutkan sebagai berikut :

“Sweswe dharma niwistanam sarwesamapurwacah, warna nanmasramanam ca raja srsto, bhiraksita”
(Pemimpin telah diciptakan untuk melindungi warna dan aturanya yang semuannya itu menurun tingkat kedudukan mereka melaksanakan tugas-tugas kewajiban mereka).

Tidak jauh berbedan dengan teori modern, dalam manajemen Hindu, wewenang seorang pemimpin adalah haknya untuk menggerakkan orang-orang atau bawahannya untuk mau mengikuti dan melaksanakan tugastugas yang diperintahkan, sementara tugas adalah kewajiban yang harus dilaksanakan. Ada beberapa hal yang berhubungan dengan tugas dan wewenang seorang pemimpin yang dilaksanakan dalam kepemimpinannya, yaitu: (1) Planning atau perencanaan, yakni berupa suatu pemikiran, perencanaan, persiapan, keputusan, dan penerapan yang dilakukan sebagai suatu kegiatan dari seorang pemimpin; (2) Organization atau pengorganisasian, yakni menata orang-orang supaya melakukan tugas-tugasnya; (3) Directing, mengarahkan agar rencana pekerjaan itu dapat dilaksanakan. Untuk mendapatkan hasil yang baik maka pemimpin perlu mendapat masukan dari bawahannya; (4) Coordination, merupakan tindakan untuk memperoleh dan memelihara kesatuan diantara perorangan atau; dan (5) Controlling, adalah pengawasan terhadap rencana yang telah dilaksanakan oleh pemimpin, untuk memperoleh keyakinannya. Melalui kontrol, akan dapat diketahui apakah rencana yang dilaksanakan telah sesuai pelaksanaannya sebagaimana yang diharapkan.

Selain itu, pemimpin perlu memeperhatikan syarat-syarat lainnya agar sukses dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya. Kitab suci agama Hindu menyebutkan sebagai berikut ( Nitisastra,I.4) “Ring janmadhika meta citta reseping sarwa praja ngenaka, ring str Madhya manchara priya wuwus tangde manah kung lulut, yan ring madhyani sang pandita mucap tattwopadesa prihen, yan ring madhyanikang musuh muca pa ken wak sura singhakreti,” yang berarti pemimpin harus bisa mengambil hati dan menyenangkan hati orang, jika berkumpul dengan wanita, harus dapat menimbulkan rasa cinta, jika berkumpul dengan pendeta harus dapat membicarakan pelajaran-pelajaran yang baik, jika berhadapan dengan musuh, harus dapat mengucapkan katakata yang dapat menunjukkan keberanian seperti seekor singa.

Inilah Tri Matra manajemen Hindu yang sesungguhnya, karena untuk berhasil mencapai tujuan wajib memiliki keluasan, kelebaran dan ketinggian yang dibungkus dalam suatu keluwesan dalam implementasinya. Dalam teori modern, konsep ini disebut manajemen kontingensi (Contingency Management).