Wartamedia

Spirit Juang Sang Pelintas Batas

Ahimsa

Ahimsa dalam Teropong Filsafat Antropologi Penulis: I Nyoman Yoga Segara Penerbit: ESBE Buku, 173 halaman
ISBN: 978-602-9138-90-0

Siapa yang tak kenal Gandhi. Poster pria kerempeng berkepala plontos dan berkacamata ini, banyak menghiasi dinding-dinding rumah, kantor, sekolah tak hanya di Negara kelahirannya India, namun di hampir pelosok dunia. Sungguh, ia dikagumi dan dipuja oleh banyak kalangan, mulai dari orang awam, politikus, akademisi, sampai para agamawan. Nama-nama seperti Albert Einstein, Martin Luther King Jr, Nelson Mandela, Dalai Lama adalah sebagian kecil orang yang kagum dan terinspirasi atas perjuangan Gandhi.

Rasa kagum inilah, mendorong I Nyoman Yoga Segara (YS), seorang Dosen bidang Antropologi Sosial di IHDN Denpasar, berupaya menelisik pemikiran-pemikiran Gandhi dalam sebuah bukunya berjudul “Ahimsa, dalam Teropong Filsafat Antropologi”. Kekaguman YS pada perjuangan Gandhi diakuinya sendiri : “…Janganjangan refleksi filsafat antropologi ini pun hanya bualan dari halusinasi atas kekaguman penulis yang berlebihan terhadap Gandhiji”(hal xix).

Ahimsa, sebuah gerakan moral sekaligus landasan perlawanan Gandhi terhadap penjajahan Inggris di India, menjadi bahasan utama buku setebal 173 halaman ini. YS berupaya menceburkan gagasan Ahimsa menjadi salah satu bidang kajian dan perspektif yang baru: Filsafat Antropologi.

Bagi YS, dengan gerakan Ahimsa, Gandhi telah memberi formula jitu
bagaimana menghadapi dan menyelesaikan sebuah konflik; dengan cinta kasih dan menerima semua makhluk sebagai bagian dari diri. Dan terbukti, gerakan ini memperoleh kemenangan politiknya di Afrika Selatan, sebuah tempat yang menjadi pergumulan hidup Gandhi selama hampir 20 tahun. (hal 31).

Ahimsa, diartikan sebagai upaya menghindari pembunuhan maupun menyakiti segala yang ada di alam, baik dengan pikiran, perkataan maupun perbuatan. Secara positif, Ahimsa dimaknai sebagai pengembangan rasa cinta, kasih sayang dan juga keberanian. Seperti dituliskan Gandhi: “The practice of Ahimsa calls forth the greatest courage” (hal 66).

Gandhi terlahir dari keluarga penganut agama Jaina, sebuah aliran ortodoks yang sangat teguh memegang ajarannya, dan Ahimsa adalah hukum kebenaran Jaina yang paling utama. Tidak memakan daging (vegetarian) adalah ciri penting penganut aliran ini. Selain prinsip-prinsip Jaina, dua kitab favorit yang sangat berpengaruh bagi Gandhi, adalah Bhagawad Gita dan Upanisad.

Dan pada kenyataannya, selain di Afrika Selatan, Gandhi telah berhasil mendapatkan kemenangan Ahimsa di negaranya sendiri, India. Di antaranya saat melakukan Gerakan Tanpa Kerjasama (non-cooperation) 1920-1922, Perjalanan Garam (salt march) 19301932, dan puncaknya, Gerakan Tinggalkan India (quit India) 1940-1942 yang akhirnya berujung pada kemerdekaan India tahun 1947.

Namun perjuangan dan pesan moral Gandhi yang universal, tak mengenal sekat-sekat primordial, harus dibayar mahal. Pada 30 Januari 1948 ia dibunuh justru oleh seorang militan Hindu, yang menganggap ia terlalu berpihak kepada umat muslim. Kematian yang ironis.

Demikianlah, Gandhi telah memberi cara baru bagi orang tertindas di seluruh dunia, yaitu senjata cinta kasih, bukan kekerasan.

Memang Ahimsa, Satyagraha, Swaraj, Sarvodaya,dan Svadesi adalah terminologi India (Sanskerta), tapi esensinya betapa ide tentang universalitas kemanusiaan telah melewati ruang dan waktu, melintasi partikuaritas manusia dalam berbagai suku, agama dan golongan. Adalah spirit kebenaran yang universal dan menembus segala batas; dan Gandhi, adalah Sang Pelintas Batas. Di titik inilah, spirit Ahimsa menjadi kebenaran yang tertinggi: Ahimsa Paro Dharmah.

Selain perspektif Ahimsa dalam perjuangan Gandhi, YS juga memberi paparan relevansi Ahimsa dalam kekinian,khususnya internalisasi Ahimsa di beberapa bidang kehidupan, di antaranya Non kekerasan terhadap penguasa, non kekerasan pada penanggulangan huru-hara, non kekerasan untuk menganggulangi ancaman dari luar, dan yang paling mendasar, adalah non kekerasan pada keluarga (hal 138).

Tentu saja, buku ini memberi khasanah dan wawasan baru bagi pembaca yang ingin lebih mengenal perjuangan dan sikap hidup seorang Gandhi. Terpenting, seperti yang ditulis Yu-dha Triguna dalam Kata Pengantarnya: buku ini mengajak kita semua untuk selalu belajar. (JaNaka)