Wartamanikam

Kearifan Lokal Bernama Desa Kala Patra

oleh: Putu Wawan

“Cening putri ayu, ngijeng cening jumah, meme luas malu, ke peken mebelanja apang ada darang nasi”. Begitulah penggalan lagu Bali yang sering dinyanyikan oleh tetua kita dulu, yang sarat makna filosofis. Seiring perkembangan teknologi informasi yang pesat, petuah sederhana seperti lagu cening putri ayu diatas, jarang kita dengar saat ini. Manusia modern lebih memilih untuk berkelana ikut meme (Ibu) luas (pergi) mencari hal-hal di luar dirinya, mengejar pemenuhan materi, alih-alih tuntutan jaman, dari pada ngijeng jumah (mencari sesuatu di dalam dirinya). Sekiranya begitulah pesan moral yang ingin disampaikan dalam lagu Bali ini, sekaligus ia merupakan salah satu kearifan lokal yang kita temui di Bali dalam bentuk lagu.

Secara konseptual, kearifan lokal mengandung pengertian kebijaksanaan setempat, karena ia terdiri dari dua kata yaitu kearifan (wisdom) yang artinya kebijaksanaan, dan lokal yang artinya setempat. Sehingga bisa diterjemahkan secara luas sebagai gagasangagasan, nilai-nilai atau pandangan dari suatu tempat yang memiliki sifat kebijaksanaan dan bernilai baik yang diikuti dan dipercayai oleh masyarakat di suatu tempat, dan sudah diikuti secara turun-temurun. Sedangkan menurut sosiolog mengatakan, semua bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman atau wawasan serta adat kebiasaan atau etika yang menuntun perilaku manusia dalam kehidupan di dalam komunitas ekologis. Jadi kearifan lokal ini bukan hanya menyangkut pengetahuan dan pemahaman masyarakat adat tentang manusia dan bagaimana relasi yang baik di antara manusia, melainkan juga menyangkut pengetahuan, pemahaman dan adat kebiasaan tentang manusia, alam dan bagaimana relasi di antara semua penghuni komunitas ekologis ini harus dibangun. Seluruh kearifan tradisional ini dihayati, dipraktikkan, diajarkan dan diwariskan dari satu generasi ke generasi lain yang sekaligus membentuk pola perilaku manusia sehari-hari, baik terhadap sesama manusia maupun terhadap alam dan yang gaib, Keraf (2010: 369).

Kearifan lokal merupakan bagian dari budaya suatu masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari bahasa masyarakat setempat. Konsep ini diwariskan secara turun temurun, dari generasi ke generasi, dari mulut ke mulut, yang dituangkan di dalam cerita rakyat, peribahasa, lagu dan permainan rakyat, salah satunya lagu Cening Putri Ayu seperti tersebut diatas. Selain itu juga, ia merupakan pengetahuan yang ditemukan oleh masyarakat lokal tertentu melalui kumpulan pengalaman dan diintegrasikan dengan pemahaman terhadap budaya dan keadaan alam suatu wilayah. Selanjutnya ia dibentuk berdasarkan tempat, waktu dan keadaan, yang umum dikenal dengan Desa, Kala, Patra. Ketiga hal inilah dijadikan alasan, kenapa kearifan lokal itu berbeda-beda di setiap daerah, dan selanjutnya dikenal dengan sebutan Trimatra.

Pengetahuan Trimatra ini berkembang sampai sekarang mewarnai kehidupan masyarakat, ditunjukkan salah satunya dalam hal ritual keagamaan. Geertz dalam penelitiannya pernah mengulas, keberagaman ritual di Bali disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah faktor kekuasaan dan faktor ekonomi. Sehingga apa yang ada sekarang menurutnya menurun dari kebijakan masa lampau dan lestari seperti apa yang diwarisi saat ini, walaupun faktor kekuasaan kerajaan yang dulu berkuasa sudah tidak ada lagi. Selebihnya, pada jaman dulu unsur kekuasaan kerajaan tiap daerah sangat berperan dalam tata laksana ritual yang beragam, disamping pengaruh kemakmuran daerah masing-masing. Selain itu kekuasaan griya yang menaungi masyarakat juga tidak kalah memiliki peran penting dalam ritual pada masa itu.

Seperti upacara ngaben misalnya, setiap daerah memiliki perbedaan pada tatanan bebantenan, serta pelaksanaan ritual. Sebagai salah satu contoh, hal yang unik terjadi di desa Trunyan, setelah ngaben bade pengusung mayat akan ditenggelamkan di tengah danau, sebab ada ketentuan atau Bisama di desa tersebut tidak mengijinkan menggunakan api, dan juga terjadi di daerah-daerah lainnya, pastinya selalu ada perbedaan. Hal ini menguatkan bahwa pengetahuan Desa, Kala, Patra sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat yang lestari sampai saat ini.

Dilain hal jika kita menilik teks, Desa, Kala, Patra memiliki makna yang sedikit berbeda. Seperti yang dijelaskan dalam teks Bagawadgita, menyebutkan bahwa Desa Kala Patra dikaitkan dengan punia. Dalam salah satu slokanya, secara garis besar me-nyatakan; Desa Kala Patra merupakan pedoman untuk berdana punia. Dana Punia yang benar dan baik disebut Satwikadaana, Dana Punia yang baik dan benar haruslah sesuai dengan petunjuk rohani yang berlaku di daerah tersebut. Maksudnya, petunjuk rohani yang berlaku di daerah setempat disebut Desa. Selanjutnya Kala di artikan sebagai dana punia yang benar dilakukan pada waktu Satvika Kala, yang artinya punia yang dilakukan pada saat pagi hari. Sedangkan Patra diartikan sebagai dana punia seharusnya diberikan kepada orang yang tepat dan baik, jika sebaliknya disebut Tamasikadana.

Begitu juga dalam sloka Sarasamuscaya dinyatakan ‘’Paatra ngarania sang yogia wehana daana’’ yang artinya Patra namanya orang yang sepatutnya diberikan dana punia. Teks tersebut juga membicarakan istilah supatra yang juga artinya orang yang baik dan sepatutnya diberikan sedekah. Dalam kamus Sansekerta kata Patra itu banyak artinya. Tetapi dalam kaitannya dengan Desa Kala Patra dalam Bhagavad Gita dan Sarasamuscaya sudah sangat jelas artinya yaitu orang yang selayaknya diberikan sedekah (punia). Untuk memahami Desa Kala Patra tersebut, dalam teks Manawa Dharmasastra, disebutkan ada lima dasar pertimbangan agar pengamalan agama atau dharma berjalan dengan baik. Yaitu Dharmasidhiartha artinya tercapainya tujuan dharma atau agama. Ada lima
dasar pertimbangan yang dinyatakan dalam sloka tersebut yaitu Iksha, Sakti, Desa, Kala dan Tattwa. Iksha artinya pandangan masyarakat, Sakti kemampuan masyarakat, Desa aturan rohani yang berlaku setempat, Kala artinya waktu. Tattwa artinya kebenaran Weda. Maksudnya Tattwa itulah diterapkan sesuai dengan Iksha, Sakti, Desa dan Kala. Inilah yang lebih tepat dimaknai sebagai dasar adaptasi diri dalam multi kultur. Hal ini menyebabkan bentuk luar tradisi beragama Hindu berbeda-beda antara daerah satu dengan daerah lainya.

Dalam pengetahuan Tantra juga membahas tentang Desa Kala Patra. Tantra pada intinya mengajarkan tentang kelepasan pada pemujaan Siwa dan Saktinya Durga. Sebelum pada tahapan itu, Tantra menyarankan untuk memahami dan menaklukan ketiga putranya yaitu Ghana, Kala dan Kumara, yang masing-masing diterjemahkan sebagai ruang waktu dan keadaan. Ketiga hal inilah yang menjadi kompendium ontologis pengetahuan masyarakat Bali khususnya, mengenai pemahaman tentang Desa Kala Patra tersebut. Sehingga Trimatra ini berkembang dan menjadi acuan berpikir, berkata dan bertindak yang dikenal dengan Tri Kaya Parisuda. Yang maknanya, masyarakat Hindu harus selalu berpikir kritis untuk kebaikan, selanjutnya memahami kata-kata, bahasa atau sastra yang baik, dari keduanya inilah dijadikan landasan bertindak benar.

Dari pemahaman ontologis Desa Kala Patra ini masyarakat Bali mengimplementasikannya dengan konsep keseimbangan, yang selanjutnya kita kenal dengan sebutan Tri Hita Karana. Dimana masyarakat Bali diajarkan untuk selalu mengadakan keseimbangan dengan alam lingkungan tempatnya berada, selalu mengadakan hubungan yang harmonis dengan sesama manusia dan yang terakhir mengadakan hubungan yang harmonis dengan sang pencipta alam semesta beserta isinya yaitu Ida Sang Hyang Widi Wasa. Kearifan lokal semacam inilah yang seharusnya digaungkan secara terus menerus pada dewasa ini. Namun rupanya kearifan semacam ini hampir tenggelam oleh pengetahuan praktis seiring cara berpikir manusia yang pragmatis.

Namun, tugas para orang tua yang dulunya selalu dinyanyikan lagu Cening Putri Ayu oleh pendahulunya, setidaknya berupaya mengingatkan generasi mudanya, jangan terlalu terlena ikut meme luas ke peken (mencari keramaian, ramya atau hal yang diluar dirinya), pada suatu saat harus bisa ngijeng jumah (mencari hal kesujatian di dalam diri, sunya), berdasarkan ruang, waktu dan dalam tindakan. Dari hal tersebut jelas bisa disimpulkan bahwa pengetahuan Desa Kala Patra tidak bisa dipungkiri, ia merupakan produk kearifan lokal yang kita yakini kapanpun tidak akan tergerus oleh bergantinya zaman ……. Rahayu