Wartamandala

Office Modern Bergaya Hindu

oleh: I Putu Gede Suyoga

Office merupakan tempat diselenggarakannya kegiatan tata usaha, di dalamnya terdapat keter-gantungan sistem antara orang, teknologi, dan prosedur untuk menangani data dan informasi mulai dari penerimaan, pengumpulan, pengelolaan, penyimpanan, sampai penyaluran yang disebut kegiatan perkantoran. Sedangkan istilah modern artinya terbaru, mutakhir, terkini, sikap dan cara berfikir serta bertindak sesuai dengan tuntutan zaman atau “kekinian”. Dengan demikian yang dimaksudkan dengan office modern adalah tempat penyelenggaraan perkantoran atau kegiatan yang bertalian dengan kantor yang kekinian.

Istilah office modern mengarahkan pemahaman pada sebuah arsitektur perkantoran dengan wajah dan tata ruang kekinian. Menggabungkannya menjadi sebuah konsep office modern yang bergaya Hindu tentulah menjadi hal yang menarik untuk dibahas, mengingat ciri-ciri arsitektur modern adalah: (1) Form Follow Function ‘bentuk mengikuti fungsi’, lebih mengutamakan fungsi dari pada bentuk bangunan. Estetika berada diurutan kesekian, segala bentuk yang tercipta semata karena kebutuhan fungsi belaka, (2) Less is More. Semakin sederhana, nilai modern sebuah bangunan semakin bertambah, (3) Tidak ada Ornamen, karena dianggap tak memiliki fungsi, maka segala jenis ornamen ditiadakan, (4) Seragam. Arsitektur modern tidak memiliki ciri individual arsiteknya, sehingga tidak dapat dibedakan antara karya arsitek satu dengan lainnya, (5) Kosong, desain polos, simple, dengan aplikasi bidang kaca lebar yang tinggi. Material kaca memiliki peran penting,
karena kaca dapat digunakan untuk membuat ruangan dengan ciri yang “ada tapi tak terlihat”. (6) Geometris, bentukan geometris yang sering muncul bukan bentukan abstrak yang tidak jelas, bentuk bangunan pasti tegas dan bergaris lurus.

Office bergaya Hindu tentu dapat dipahami sebagai sebuah stil desain kantor yang mengangkat nilai kehinduan dalam arti luas, bisa berorientasi keindiaan (berpedoman vastu dan silpa shastra) atau kebalian (konten Arsitektur Tradisional Bali). Arsitektur Bali dari segi tampilan memiliki aturan berbasis nilai kehinduan yang menjadi landasan penampilan gaya arsitekturnya. Aturan yang dimaksud adalah menginterpretasikan bagian-bagin tubuh manusia pada elemen bangunan melalui konsep tri angga. Konsep tri angga berarti tiga bagian badan, yaitu kepala, badan , dan kaki. Konsep lainnya yaitu hulu – teben, tri mandala, tri hita karana, dan manik ring cecupu.

Arsitektur Bali modern merupakan pengembangan arsitektur Bali dengan penambahan unsur modern, yakni gaya arsitektur vernacular dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal untuk membuat struktur dan bangunannya, serta mencerminkan tradisi lokal. Penggunaan material alam secara optimal untuk menciptakan bangunan dengan suasana tropis dan selaras dengan lingkungan. Gaya arsitektur Bali modern juga menjadi salah satu trend dalam dunia arsitektur untuk mewadahi segala aktivitas manusia dan fungsional dalam tuntutan modernitas.

Dalam wujud arsitektur Bali modern yang dimaksud kepala adalah atap (upper structure), badan merupakan bagian supper structure (kolom dengan dindingnya), sedangkan kaki berarti batur peninggian bagian bawah dinding/ leveling lantai, dan pondasi (sub structure). Aplikasi ornamen sangat sedikit diterapkan, hanya sebagai focal point semata. Pada bangunan tinggi, penerapan ornamen dapat berupa bingkai logam ringan sebagai selimut bangunan, bagian bingkai berlubang dengan ornamen geometris dengan motif khas kehinduan. Selain sebagai penambah estetika wajah bangunan juga berfungsi sebagai penyangga termal bangunan serta memberikan keteduhan pada bangunan.

Pada konsep office modern bergaya Hindu, penerapan tata ruang kantor dapat mengaplikasikan konsep natah pada setiap level lantai. Pada ruang publik misalnya, natah dapat ditransformasikan menjadi ruang penerimaan dan ruang tunggu tamu serupa hall atau lobby. Sedangkan fungsi-fungsi perkantoran modern di sisi-sisinya menginterpretasikan bale-bale yang ada dalam sebuah tata ruang tradisional Bali. Desain ruang kerja misalnya dapat mengadopsi kembali konsep natah sebagai ruang tengah yang dikosongkan untuk orientasi dan sirkulasi, atau dapat difungsikan sebagai ruang rapat bersama.

Ruang pimpinan sebagai struktural tertinggi dalam organisasi perkantoran dapat disetting pada posisi Timur, dan Utara ruangan, dengan penataan interior meja kerja sedapat mungkin menghadap ke arah gunung (kaja) ataupun matahari terbit (kangin). Demikian juga, zona hulu (utama) ini direkomendasi untuk penempatan tempat suci dan pelangkiran/altar persembahyangan. Kegiatan kerja perkantoran dapat ditata dalam zona madya (tengah), sedangkan aktivitas service dan pelengkap dalam perkantoran, seperti dapur, toilet umum, gudang, dan sejenisnya dapat ditempatkan pada zona teben (Barat dan Selatan). Pada bangunan berlantai, hirarkhi ruang ini menjadikan lantai atas untuk zona fungsi yang lebih tinggi secara struktural organisasi perkantoran dan aktivitas service/parkir pada lantai terbawah. Sedangkan terkait sisi ritual yang seharusnya mengikuti setiap tahap konstruksi, dapat diselenggarakan sekaligus pada saat pemelaspas kantor tersebut, sehingga menjadikannya “berjiwa”.