Wartamanawa

Wawanrasa Wartam dengan Ida Pedanda Gede Putra Telabah dan Ida Rsi Agung Dawan Pemecutan

Desa, Kala, Patra di Simpang Tiga

 

Desa, kala, patra seperti sebuah trimatra yang selalu menjadi rana. Kadang tempat sembunyi hanya untuk sebuah gengsi di jaman teologi dan teknologi dengan mithos mitos suci think locally, act globally bahkan derasnya modernisasi bahkan sebuah alibi. Masih layakkah kita melintas di jalan Tri Matra desa kala patra atau desa kala arta? apalagi tiga jalur simpang tiga dunia nyata, dunia spiritual dan dunia maya, masihkan desa kala patra menjadi patram? inilah Talkshow Inspiratif Bintang Tiga, dengan dua Bintang Tamu, Ida Pedanda Gede Putra Telabah, Guru besar ilmu kesehatan Masyarakat F.K. Unud dan Ida Rsi Agung Dawan Pemecutan, Mantan Bendesa Adat Jimbaran, juga sebagai penggiat sastra dan usadha Bali. Berikut petikan wawanrasanya diramu oleh Tan Wi Lang

 

T: Ratu pedanda mohon di wedarkan hal menarik yang bisa dicatat dalam dua dunia pengabdian, Dharma Agama dan Dharma Negara?

J: Perjalanan pedanda mengabdi menjadi PNS sejak diangkat oleh Universitas Udayana 54 tahun yang lalu dengan memilih keahlian Dokter kesehatan masyarakat. Sebagai warga Negara juga menjadi Pedanda melakoni kepanditaan dalam praktek dharma agama sejak tersadar menjadi seorang Pandu dan Pramuka menjalankan dasa dharma Pramuka dan bela Negara sejak dahulu.

 

T: Mohon diberikan pengertian dasar untuk para penonton disini dari sudut pandang kewikuan mengenai Desa, Kala dan patra.

J : Sesudah Tahun 1965 saat aktif mengikuti simfosium kesehatan dan adat dan agama Hindu Bali, setelah peristiwa tragis muncullah istilah desa kala patra yang menjadi “Menenangkan, menetralkan, bisa menghindar dan menekan konsep-konsep atau menjadi kata kunci, mahasiswa saat itu mengatakannya jargon, Pedanda artikan seperti difikirkan oleh Pendiri Fakultas sastra Unud dahulu, Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus, yang memaknai Desa itu, Kala itu waktu dan patra iu orangnya dan Matra dimaknai dengan Ibu sebagai penetralisir.

 

T: Ida Rsi mengenai pemahaman dan pelaksanaan Desa Kala Patra global dan privat, Umum dan Khusus yang mana yang mesti lebih di kedepankan?

J : Menurut Ida Rsi, sesungguhnya ini memelukan keserasian, seimbang dan selaras, jangan sampai salah satunya saja yang menonjol. Sebagai contoh, istilah kata ngayah yang berarti mendapatkan suatu pekerjaan tanpa pamrih, namun kenyataannya ini belum dipaham betul oleh umat Hindu baik masyarakat umum dan khusus secara keseluruhan. Sebagai pribadi kita harus meyakini ajaran tattwa agama kita dengan sepenuh hati, dan berusaha melaksanakan dengan baik. Satu konsep yang sangat sederhana tetapi sangat mendasar juga harus kita laksanakan yakni Tri Kaya Parisudha.

 

T: Ida Rsi , Sebenarnya desa kala patra hal ini sebuah nasehat atau hanya ungkapan penutup kata biasa?

J: Sebenarnya desa, kala, patra adalah satu kesatuan. Desa yang berarti Areal atau wilayah, Kala yaitu saat atau waktu dan patra adalah situasi dan keadaan. Sebagai contoh perayaan Hari Raya Nyepi dalam masyarakat heterogen, saat itu peran saya sebagai Bendesa Adat Jimbaran, menyikapi bersama perangkat desa yang lainnya untuk meredakan Masalah toleransi antar umat beragama agar tidak bersinggungan, disanalah peran penting praktek dari desa kala patra tersebut.

 

T: Bagaimana dengan desa mawacara, drsta, apakah ada hubungannya dengan desa kala patra?

J: Kita Hidup ini saling berhubungan, Apa yang diciptakan Hyang Widhi di dunia ini, Kita harus berpegang dan melewati ajaran tapa, brata, Yoga, semadhi,dengan baik.

 

T: Ida Pedanda benarkah desa kala patra kini sudah tumpul sehingga perlu di asah lagi ?

J : Yang mengasah kembali adalah peran dari kalangan brahmacari kemudian, Orang tua cukup menuntun seperti istilah tut wuri handayani ing ngarso sontolodo ing madya mangun karso tut wuri handayani.

 

T: Ratu Pedanda apa yang harus kita lakukan untuk mengembalikan makna dan ruh desa kala patra, ini agar menjadi jiwa atau karakter agama Hindu?

J: Tetap pada diri sendiri, kita punya Tri Sandhya yang pertama sudah penghormatan dan sebelum santhi kita sudah mohon maaf. Menjalankan Tri Kaya Parisudha manacika, wacika dan kayika dan ada bagian dari asta budha berfikir yang baik, berkata yang baik dan berbuat yang baik.

 

T: Secara individual nasehat apa yang bisa disampaikan pada pembaca agar pengertian, pemahaman dan pelaksanaan Tattwa Susila, Acara kembali ke jalur Desa Kala Patra yang sesungguhnya ?

J: Jelas seperti itu karena sekarang santer terdengar Tri Kaya Parisudha termasuk pada waktu Ida Bagus Ngurah dalam buduk sedang tenartenarnya pentas, tetapi si melem dalam hal itu tidak mengerti tri kaya parisudha. Ada sebagian orang yang tidak mau mengerti dengan tri kaya parisudha padahal hubungannya sangat erat dengan desa kala patra tadi. Dan dikaitkan dengan desa mawacara, desa dresta, kuna dresta. Kita dekatkan antara dresta-dresta yang biasa dilaksanakan agar bersumber dari satu ketentuan yaitu sastra. Ada sastra dresta, desa dresta, desa mawacara dan kuna dresta. Jadi pemahaman perlu dipertajam dan pelaksanaannya di tingkatkan untuk mencapai tujuan.

 

T: Ratu pedanda, Adakah dampak yang didapatkan kalau orang tiba-tiba keluar jalur desa kala patra?

J: Penyikapan anak muda sekarang hebat-hebat, Pedanda baru belajar mengirim email anak-anak sudah sangat hebat di bidang IT. Untungnya IT pedanda bawa ke jnana mengasah taring jnana. Melalui kreativitas memanfaatkan jalur maya.

 

T: Desa kala patra salah satu kearifan lokal yang kita miliki, selain Trikaya Parisudha, Trihitakarana, Tat Twam Asi, dan lain lain. Mohon saran ratu pedanda agar kearifan lokal ini tak tercerabut dari akar asalnya Hindu dharma

J : Jika saya rasakan kebanyakan dari kita ini kurang eling berarti lupa, tidak eling terhadap diri sendiri sedang berada di mana lupa beraada di jalan, lupa itu berbahaya. Setelah pikiran jernih baru akan bisa men
dapat satu ketenangan lalu pikirkan apa yang akan dikerjakan sehubungan dengan Desa Kala Patra, Tri Kaya Parisudha, Sad Dharma, ke sana arahnya jika sudah mengingat itu saya sekarang akan melaksanakan yadnya mohon dharma wacana kepada siapa yang mau di kukuhkan setelah itu laksanakan dharma tula itu dasarnya adalah eling.

 

T: Ratu Pedanda ini pamungkas tanya, Dewasa ini benarkah desa kala patra seperti patung usang di simpang tiga yang hanya menjadi tontonan mulai ditinggalkan anak muda Hindu?

J: Ada benarnya bagi yang tidak tahu. Ada salahnya bilamana hanya tiga saja. Namun di sana tertuang tentang kehidupan kaliyuga ternyata ada juga simpangan simpangan kaliyuga itu.

 

T: Ida Rsi ada tambahan untuk menjelaskan bahwa Desa Kala patra masih ber’taring’ hingga kini

J : Rasanya bukan bertaring tetapi kurang tajam karena kita
sering lupa di mana kita berada pada saat apa kita berada pada kondisi apa kita berada contoh jelas -jelas di beritahu jangan menyalakan hp saat berkendara tetapi masih ada yang melanggar. Saya tidak menyalahkan karena kala yang menuruti. Jika ada sekeha truna, diharapkan memberikan suatu pemahaman agar ingat, kelihan banjar wajib memberikan pemahaman itu. Bendesa memberikan pemahaman kembali walaupun kelian sudah menyampaikan tapi bendesa harus menjadi bendesa asal kata bande/desa apa pun masalah di desa itu dia yang harus memikul. Jadi harus di pahami oleh berbagai elemen masyarakat

 

T: Ida pedanda mohon pesan untuk generasi muda dalam memajukan Hindu dharma terkait dengan desa kala patra?

J: Interaksi seperti talkshow ini sudah bagus untuk dilanjutkan oleh generasi muda sehingga dapat penganut yang baik dan hebat kedepannya.

 

Ida Pedanda Istri Pemayun
Sekarang, kita menyadari bahwa bahaya dan dampak negatif perkembangan arus globalisasi, misalnya pergaulan bebas dan masalah narkoba. Sebagai orang tua agar menjaga anak- anaknya dan memberi pemahaman penting tentang Sradha Hindu melalui kegiatan sembahyang dengan meditasi dan yoga bersama keluarga. Ini akan menambah kesadaran anak untuk tidak berbuat negatif. Kegiatan diisi hal hal positif dari sejak dini yang akhirnya sang anak pun akan berkembang dengan baik sehingga akan menjadi contoh dan dapat menularkan pada lingkungan sekitarnya.

Dr. IB Dharmika (Rektor UNHI Denpasar)
Desa adalah tempat ruang kala adalah waktu patra adalah aktor. Ada manusia, ada tempat ada waktu jadi harus di serasikan antara ke tiga tersebut. Aktor yang kadang dalam desa kala patra tersebut harus cerdas. Sehingga ini mencerminkan harmonisasi Tri Hita Karana di masyarakat. Konsep ini memberikan gambaran tentang kearifan dan keluwesan dalam menjalankan kewajiban dengan tujuan meminimalkan permasalahan dengan tidak mengurangi esensi dan tujuan dari kegiatan dimaksud.

Dr. Wayan Sukarma
Badan mencoba berfikir muncul waktu badan itu dibatasi diberi aturan badan itu berbuat. Ruang waktu tindakan disebut desa kala patra. Patra muncul dari tindakan karena patra roh berarti tolak ukuran, tetapi yang di maksud dharma ruang dan dharma waktu. Karena pada hakekatnya semua muncul dari alam ketika ketiga pada waktu dan ada karena perbuatan itulah yang di uraikan dalam bhagawdgita ditambah brahman dan atman. Ruang berarti melingkupi ruang. Keberadaan terikat pada ruang tergantung sebuah kondisi waktu.Sebuah situasi dan kondisi aturan yang memunculkan susila yang merumuskan prinsip prinsip moral dia memberikan aturan kepada Tri Kaya Parisudha.