Wartam Edisi 35

0
68
Wartam Edisi 35
Wartam Edisi 35

Cendekia

Eksistensi manusia di jagat pati (tempat semua makhluk pasti mati) memang sui generis dan menyiratkan suatu unikum. Nun jauh menjelajah waktu—pasca duk tan hana paran-paran—manusia didefinisikan sebagai animal rationale (makhluk berakal). Lalu, filsuf modern Ernst Cassirer memperkenalkan tesis baru tentang manusia sebagai animal symbolicum.

Syahdan, sebagai animal symbolicum, jati diri manusia yang menonjol bukanlah sifat metafisik ataupun fisiknya, melainkan pada artifak kebudayaannya. Jati diri manusia tidak dapat diketahui secara kasat mata, namun memerlukan eksplanasi analitik semesta simbolik yang telah diciptakan sepanjang sejarahnya. Para Rsi, Bhagawan, Filsuf Kuna, dan Filsuf Modern sesungguhnya memandang manusia sebagai makhluk refresensasional homo symbolicum, yaitu makhluk yang karakter utamanya senantiasa menciptakan dan memanipulasi tanda sebagai kelir untuk menggantikan sesuatu yang lain.

***

Menurut agama Hindu, hanya manusia sebagai makhluk tri pramana di antara makhluk eka pramana dan dwi pramana yang memiliki wasana cendekia. Manusia dengan kecendekiaannya memproduksi simbol dengan materia univers (kesemestaan). Awalnya, simbol didaktik digambarkan dengan lukisan sederhana di dinding gua manusia purba. Lalu berkembang dengan simbol
ikonik benda-benda (patung, kuil, candi, dan lain-lain), kemudian lebih rumit lagi dengan belantara simbolisme verbal (bahasa lisan dan tulisan).

Filsuf Susan Langer menyebutkan bahwa semakin kompleks simbol yang diciptakan, maka semakin tinggi suatu kebudayaan. “Sesungguhnya, manusia hidup dalam belantara simbolisme yang diciptakannya,” kata ahli kebudayaan Victor Turner. Simbol-simbol yang rumit itu, tidaklah stabil sepanjang sejarahnya. Pada suatu saat ketika simbol-simbol itu dirasa memberatkan, lalu diberontaki, disederhanakan, dipangkas sebagai alusi dan kenang-kenangan. Ketika “pemberontakan” itu usai, lalu terjadi pemurnian kembali. Simbol yang ditinggalkan digali lagi, dihidupkan lagi dari alusi dan kenang-kenangan itu.

Cakraning gilingan kehidupan yang berputar evolutif siklis itu, sesungguhnya merupakan refleksi perputaran pasangsurut kehidupan yang menandakan jnanin manusia cendekia memikirkan masa lalu (atîta), masa depan (anâgata), dan masa kini (wartamâna). Manusia yang yang cendekia itulah yang meretrospeksi masa lalu, lalu mengeksplanasi visio yang akan terjadi pada masa depan, dan menata yang harus dilakukan pada masa kini. WARTAM edisi ini menelisik kaum cendekia bagi agama Hindu yang diharapkan memberi solusi atas aab jagat yang semakin hari semakin kompleks

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here