Jaba tengah

Dari Tri Kaya Parisudha hingga Desa, Kala, Patra

oleh: Nanang Sutrisno

Apan iking dadi wwang, utama juga ya, nimittaning mangkana, wenang ya tumulung awaknya sangkeng sangsara, makasadhanang subhakarma, hinganing kottamaning dadi wwang (Sarasamuccaya, 4).

Lahir menjadi manusia itu utama. Sebab, hanya manusia saja yang dapat menolong dirinya pribadi dari kesengsaraan dengan cara berbuat baik (subhakarma). Menghilangkan kesengsaraan hidup dengan berbuat baik adalah perintah moral, sehingga moralitas adalah hakikat keutamaan manusia. Manusia bermoral disebut manusia utama (purusottama). Oleh karena itu, menjalani aktivitas kehidupan berdasarkan kepatuhan dan ketundukan pada nilai-nilai moral merupakan kewajiban manusia yang utama. Menjadi purusottama adalah tujuan puncak moralitas Hindu.

Untuk menjadi manusia bermoral (purusottama), Hindu mengajarkan pentingnya pengendalian pikiran (manah), perkataan (wak), dan perbuatan (kaya) agar selalu sejalan dengan prinsipprinsip dharma. Dharma berarti kewajiban, aturan, kebenaran, kebajikan, dan sebagainya. Dharma menjadi dasar sekaligus prinsip penuntun dan pengarah (guiding principle) manusia dalam menjalani kehidupan untuk mencapai seluruh tujuan hidupnya. Beberapa teks Upanisad meringkas hakikat dharma menjadi tiga, yaitu kebenaran sejati (satyam, sat), kesadaran murni (sivam, cit), dan keindahan atau kebahagiaan (sundaram, ananda). Ketiga prinsip inilah yang dapat menyucikan (parisudha) pikiran, perkataan, dan perbuatan manusia. Ketiganya membangun satu kesatuan prinsip perilaku yang disebut Tri Kaya Parisudha (‘tiga perilaku suci’). Dengan kalimat yang lain bahwa hakikat moralitas Hindu adalah penyucian pikiran (manacika parisudha), perkataan (wacika parisudha), dan perbuatan (kayika parisudha) berdasarkan sat-cit-anandam.

Kebenaran (sat) harus menjadi idealisme moral karena moralitas ditegakkan untuk menegakkan kebenaran. Pemikiran filosofis Upanisad menyebutkan bahwa satu-satunya kebenaran absolut adalah Brahman. Emanasi Brahman dalam alam semesta dan seluruh ciptaan-Nya menyebabkan degradasi kesadaran jiwa (atman) – yang hakikatnya sama dengan Brahman (paramatman) – akibat belenggu materi (prakerti). Prakerti menciptakan ilusiilusi (maya) yang kerap dianggap kebenaran, misalnya menganggap tali sebagai ular. Penyingkapan ilusi-ilusi maya melalui pengetahuan rohani adalah jalan utama agar sang atman kembali pada kesadaran sejati (matutur ikang atma ri jatinia). Jiwa (atman) yang telah mencapai kesadaran sejatinya yang sama dengan Paramatman ketika manusia masih hidup dalam dunia materi disebut jiwanmukta.

Teks Yogasutra Patanjali mengajarkan delapan langkah (astangga yoga) menuju jiwanmukta dengan menjadikan moralitas sebagai landasannya, yakni panca yama brata (‘pengendalian perilaku fisik’) dan panca nyama brata (‘pengendalian perilaku mental’). Ajaran Siwaistik nusantara, salah satunya teks Wrhaspati Tattwa, menegaskan pentingnya pengetahuan suci (jnana bhyudreka), jalan pengendalian indriya (indriya yoga marga), dan membebaskan perilaku dari ikatan dosa (trsna dosa ksaya) untuk mencapai kesadaran atman yang sucimurni. Bhagavad Gita menyebutkan empat jalan utama (catur marga yoga), yakni jalan kerja (karma marga), jalan persembahan dan pelayanan (bhakti marga), jalan pengetahuan (jnana marga), dan jalan mistis-spiritual (raja marga). Pada setiap jalan tersebut, moralitas menjadi dasar tindakan dalam pelaksanaan kewajiban (swadharma). Dengan demikian, moralitas menjadi landasan bagi seluruh jalan rohani untuk menyucikan dan memurnikan jiwa. Oleh karena itu, pengendalian pikiran, perkataan, dan perbuatan mutlak dilaksanakan dalam hidup kerohanian. Konsistensi perilaku moral melalui disiplin diri (abhyasa) dan ketidakterikatan terhadap hasil tindakan (vairagya) merupakan tangga awal menuju tahapan-tahapan rohani berikutnya.

Mengembalikan kesadaran atman dalam dunia kehidupan sehari-hari menjadi keutamaan yang patut diperjuangkan. Walaupun demikian, manusia berhadapan dengan alam-lingkungan dan karakter individu yang beranekaragam sehingga kebenaran dipahami dan dipraktikkan secara berbeda-beda. Kehidupan manusia dipenuhi kebenaran-kebenaran relatif akibat beraneka-ragamnya kehendak, pengetahuan, pemahaman, dan kepentingan manusia. Kondisi ini menuntut manusia agar senantiasa mengembangkan kesadaran dan kebijaksanaan (cit, sivam) dalam diri sehingga tetap teguh dalam keutaman di tengah paradoks kebenaran. Kakawin Arjunawiwaha mengingatkan pentingnya kesadaran dan kebijaksanaan sebagai ambek ‘karakter perilaku’ dalam menjalani dunia-kehidupan sehari-hari. Teladan yang diberikan adalah ambek seorang pendeta utama (paramartha pandita) yang telah melampaui kesunyataan (huwus limpad sakeng sunyata). Ambek pendeta utama tidak pernah berperilaku karena dorongan hasrat dan kepentingan pribadi (tan sangkeng wisaya), tetapi mendedikasikan setiap perilakunya semata-mata demi kebahagiaan dunia (prayojananira lwir sanggrahing lokika). Begitulah hakikat perilaku suci (kaya parisudha) yang sesungguhnya.

Perilaku suci yang sematamata ditujukan untuk kebahagiaan makhluk lain (agawe sukaning len) dan dunia (agawe sukaning rat), mensyaratkan kesadaran moral untuk mentransformasikan kebenaran menjadi kebaikan. Penataan hubungan dengan Tuhan (parhyangan), sesama manusia (pawongan), dan alam lingkungan (palemahan) harus didasari prinsip-prinsip moral yang merefleksikan nilai kebaikan. Transfigurasi kesadaran ketuhanan (divine consciousness) menjadi kesadaran kemanusiaan (human consciousnees) dan kesadaran lingkungan (environmental consciousness) menjadi langkah utama untuk mewujudkan harmoni alam-manusia-Tuhan. Sebab ukuran kebaikan adalah kemanfaatan kebenaran bagi kebahagiaan semua makhluk. Dalam kesadaran inilah ‘yang benar’ harus menjiwai ‘yang baik’. Jadi, Tri Kaya Parisudha sebagai ‘perilaku benar’ dalam dunia absolut, juga harus menjadi ‘perilaku baik’ dalam dunia relatif.

Segala yang benar tidak akan menjadi baik, apabila tidak menciptakan kebahagiaan bagi kehidupan. Kebahagiaan yang tercakup di dalamnya kesenangan dan kepuasan diri berpusat pada anandam (kebahagiaan) atau sundaram (keindahan) yang menginspirasi lahirnya seni kehidupan. Artinya, mentransformasikan kebenaran menjadi kebaikan dalam kehidupan sehari-hari mensyaratkan pentingnya memperindah pikiran, perkataan, dan perbuatan sebagai ekspresi moralitas. Manusia tidak cukup hanya berpikir benar dan baik, tetapi juga penting memikirkan agar kebenaran dan kebaikan itu dapat membahagiakan semua makhluk tanpa kecuali. Kebenaran mengenai hakikat Tuhan dan cara berhubungan dengan-Nya diekspresikan melalui perilaku religius yang menciptakan berbagai aktivitas ritual dan artefak keagamaan. Kebenaran mengenai hakikat kemanusiaan menjadi dasar berpikir positif, bertutur kata yang halus dan sopan, serta berbuat penuh kasih kepada sesama. Kebenaran mengenai hakikat kealaman diekspresikan melalui perilaku merawat dan memelihara alam-lingkungan agar tetap indah serta lestari.

Seluruh perilaku manusia dalam mengekspresikan sat, cit, anandam mencirikan peradaban dan keberadaban masyarakat. Cara suatu masyarakat berpikir, berkata, dan berbuat dengan tata nilai tertentu dalam kehidupannya menjadi ciri peradaban masyarakat itu sendiri. Sementara itu, kualitas moral dari pikiran, perkataan, dan perbuatan anggota masyarakat tersebut mencirikan keberadabannya. Peradaban sebagai wujud eksistensi manusia dalam kehidupan sosial budayanya merefleksikan seperangkat tata nilai yang dipatuhi masyarakat dalam ruang (desa), waktu (kala), dan keadaan (patra), sedangkan perilaku manusia dalam mengimplementasikan tata nilai tersebut menunjukkan ciri keberadabannya. Sebaik-baiknya peradaban adalah apabila mampu membentuk manusia-manusia yang beradab, yakni manusia yang senantiasa mendasari perilakunya dengan nilai moral dalam setiap ruang, waktu, dan keadaan.

Pemahaman tersebut menegas-kan bahwa desa-kalapatra dan Tri Kaya Parisudha tidak dapat dipisahkan dalam peradaban serta keberadaban masyarakat. Pera-daban tercipta dalam ruang (desa), dipelihara oleh waktu (kala), dile-bur dan diciptakan kembali seiring perubahan keadaan (patra) masyarakat. Patra menjadi simpul terjadinya siklus peradaban karena di dalamnya, struktur memperoleh kekuasaannya dan aktor mendapatkan kapasitas keagenannya. Struktur yang terdiri atas institusi dan aturan memiliki kekuasaan untuk mengendalikan perilaku aktor dalam ruang dan waktu tertentu. Sebaliknya, juga aktor memiliki kapasitas keagenan untuk melakukan perubahan, yakni ketika struktur dipandang tidak sesuai lagi dengan semangat zaman. Perubahan moral masyarakat acapkali menjadi unsur penggerak perubahan yang dominan dalam masyarakat, seperti digambarkan dalam siklus catur yuga. Hal ini mengindikasikan bahwa kekuatan desa-kala-patra berpusat pada kemampuannya menjaga moral manusia dan masyarakat. Memperkokoh desa-kalapatra berbasiskan Tri Kaya Parisudha adalah perintah moral demi terwujudnya peradaban dan keberadaban manusia. Rahayu !!!