Bencingah

Kembali ke Diri Sendiri…

Diri ini adalah diri itu… Diri ini adalah bukan diri itu… Diri ini adalah diriNya… Diri ini adalah diri ini jua adanya…

Sang Kawi Swara, pun Sang Maharsi Agung, merenung mengolah jnana tiada henti memikirkan kesujatian diri ini. Di atas puncak gunung nan tinggi, di tengah hutan belantara nan sepi, di pasraman nan asri, para Kawi Swara pun Maha Rsi Agung menempa pikiran untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan: “Siapakah diri ini?”

Aku yang sekecil debu, yang beterbangan di angkasa raya adalah aku sendiri. Akulah desa, akulah negara, akulah dunia, akulah sang penjelajah waktu (kala), akulah sang manungaling kaula gusti, tetapi aku juga ibarat sehelai daun (patra) yang beranjak tua, menguning, lalu terhempas ke tanah, terurai meresap ke dalam panca maha bhuta.

Trimatra Desa, kala, patra ialah adagium universum simbolik agama Hindu yang merefleksikan eksistensi jati diri manusia Hindu. Dari universum simboliuk mengenai diri manusia sampai pranata tempat, waktu, dan keadaan yang senantiasa berubah.

Gambaran tri matra sebagai jalan keluar yang ampuh untuk menyikapi perubahan yang ada, kadangkala dituduh sebagai biang kerok paham permisifisme dalam agama Hindu. Atas alasan tri matra tersebut, seringkali perubahan diadakan. Walaupun perubahan tersebut belum, bahkan tidak seharusnya terjadi.

Teori antropologi dasar, menyebutkan bahwa cara hidup mempengaruhi kehidupan beragama. Persoalan yang dihadapi oleh masyarakat Hindu dewasa ini berpulang pada perubahan cara hidup. Betapa tidak, rangkaian ritus agama Hindu yang rumit ditengarai sebagai penyebab berubahnya cara pandang terhadap ritus yang diwarisi turun temurun.

Lagi-lagi perubahan itu dilegitimasi atas dasar trimatra (desa, kala, patra). Bila sekarang muncul hipotesa seolah trimatra desa, kala, dan patra telah tumpul tiada bermata tajam, maka sesungguhnya berpusat pada eksistensi aku (desa). Aku yang berubah memang sesungguhnya menjadi pusat penjelajah waktu (kala). Sebelum akhirnya menjadi layu bak setangkai daun (patra) yang pada akhirnya menjadi humus.

Akankah itu terjadi? Tampaknya, fenomena kekhawatiran atas terjadinya perubahan yang mendegradasi kehidupan religius itu menjadi fenomena umum di tengah adagium perubahan kebudayaan yang sesungguhnya merupakan keniscayaan. Propaganda localy think globally act merupakan aktus yang didengungkan atas dasar konjungsi kekhawatiran pada adagium perubahan yang melanda entitas budaya.

Wartam edisi ini, memantik aktus perbincangan tentang eksistensi diri untuk menemukan formulasi bernas tentang jati diri manusia Hindu dalam mengarungi kehidupan yang senantiasa berubah. Selamat membaca! Selamat meretrospeksi diri untuk kembali ke diri sendiri.